Mengenal Ekonomi Indonesia

Selama tiga dekade pembangunan ekonomi masa pemerintahan Orde Baru, kita mengenal dua arus besar pemikiran dan strategi pembangunan ekonomi. Pemikiran pertama merupakan representasi kelompok teknokrat yang terutama diwakili Widjojo Nitisastro. Sedang pemikiran kedua dikembangkan kaum teknolog dengan tokoh sentralnya B.J Habibie.

Kelompok pertama mendasarkan konsep pembangunan ekonomi pada strategi industrialisasi yang bertumpu pada prinsip keunggulan komparatif (comparative advantage) yang mengacu pada teori Ricardian tentang perdagangan internasional dan industrialisasi. Mereka juga menekankan pentingnya stabilitas ekonomi makro dan keterbukaan ekonomi.

Sementara itu, kelompok pemikiran kedua cenderung ingin meninggalkan prinsip keunggulan komparatif dan lebih mengutamakan keunggulan kompetitif (competitive advantage). Kaum teknolog dalam poros ini berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak dapat hanya mengandalkan investasi (modal) dan tenaga kerja, tetapi membutuhkan kelebihan atau keunggulan lain seperti teknologi dan sumber daya manusia sehingga bisa menghasilkan nilai tambah yang tinggi.

Kedua tokoh, baik Widjojo maupun Habibie, pada masa itu sama-sama mempunyai posisi yang strategis sebagai pembantu dekat Presiden Soeharto. Karena itu pula pemikiran mereka berpengaruh pada kebijakan pembangunan nasional. Kendati demikian, pemikiran kedua kubu ini dalam implementasinya. tidak berseberangan secara konfrontatif. Boleh dikata mereka saling melengkapi dan menentukan pola pembangunan Orde Baru.

Kebijakan pengembangan industrialisasi sendiri sebelumnya beroleh momentum ketika Menteri Perdagangan dan Perindustrian Sumitro Djojohadikusumo meluncurkan rencana pengembangan industri diawal dekade 1950-an. Program Sumitro, mencakup pembangunan industri skala kecil, menengah, maupun besar. Sumitro melihat kenyataan sektor pertanian yang kurang memberi harapan bagi peningkatan kemakmuran rakyat. Menurutnya guna mencapai kemakmuran rakyat secepatnya, Indonesia harus langsung menempuh pembangunan industri substitusi impor untuk menggantikan barang-barang impor. Selain itu sektor pertanian dinilai menghasilkan nilai tambah yang rendah, sedangkan sektor industri mampu memberikan nilai tambah yang tinggi.

Semula hasil-hasil pertanian khususnya subsektor perkebunan seperti karet, kopi, teh, dan kayu gelondongan cukup mendominasi produk ekspor Indonesia. Namun sejak awal dasawarsa 1980-an, ekspor pertanian terus menurun. Bahkan data tahun 1995 menunjukkan ekspor produk pertanian tercatat hanya 8,3%. Sebaliknya, ekspor hasil industri terus meningkat dari sekitar 60% awal dekade itu hingga 83,9% dari total ekspor pada tahun 1995 (Supranto, 1998).

Sampai pada tingkat tertentu, visi pembangunan Orde Baru ternyata membuahkan hasil berupa pertumbuhan ekonomi yang rata-rata cukup tinggi, inflasi yang berhasil dikendalikan, kesejahteraan rakyat meningkat, dan kepercayaan dunia internasional dengan mengalirnya investasi yang cukup besar. Namun sayangnya, keberhasilan pembangunan itu pada saat yang sama juga menimbulkan dampak kesenjangan ekonomi, melonjaknya angka pengangguran, stabilitas politik yang rentan, hingga menyulut krisis ekonomi berkepanjangan.

Berkaca dari krisis ekonomi yang melanda negeri ini, tampak ada kesalahan dalam penerapan kebijakan ekonomi dimasa lalu. Pengalaman krisis menunjukkan bahwa kebijakan pertumbuhan ekonomi dengan mengambil strategi pembangunan industri melalui substitusi impor, ternyata menjadi bumerang bagi Indonesia. Langkah pembangunan itu selain membutuhkan biaya mahal dan ketergantungan besar terhadap investasi, teknologi dan bahan baku, juga menciptakan ketergantungan politik kepada negara-negara industri maju.

Industri dengan titik berat pada usaha mengejar pertumbuhan ekonomi dalam pembangunan menjadi prioritas pemerintah Orde Baru. Sektor-sektor industri seperti tekstil, elektronik, baja, dan mesin otomotif dibangun melalui kebijakan industrialisasi padat modal dengan memanfaatkan keunggulan tenaga kerja dalam negeri yang murah. Agar proses produksi dapat berjalan maka kelangkaan bahan baku industri dipenuhi dengan mengimpor dari luar, termasuk produk atau komoditas pertanian.

Strategi pembangunan ekonomi di Indonesia yang mengikuti kecenderungan tersebut ternyata memerosokkan Indonesia dalam krisis ekonomi. Belajar dari kasus itu kiranya kita perlu merekonstruksi kembali strategi pembangunan ekonomi. Pemerintah hendaknya menerapkan strategi baru dengan berusaha melepaskan diri dari ketergantungan-ketergantungan tersebut. Dalam kaitan ini kita perlu meningkatkan kemampuan produksi nasional melalui pelebaran kapasitas produksi yang bersumber dari sektor-sektor baru. Salah satunya adalah pertanian dan perikanan kelautan.

Oleh: Muhamad Iman Damara

Perihal irids-indonesia
institute for regional and development studies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: