TIDAK INGIN HARGA BBM NAIK? KE LAUT AJA

Oleh : Maulana Ishak, S.Pi
Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Sektor Real
(Institute for Regional Investment and Development Studies)
Asisten Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, MS
(Guru Besar Institut Pertanian Bogor)

Gelombang protes terhadap penolakan kenaikan harga BBM santer terdengar selama 1 bulan penuh di bulan Maret 2012. Beragam reaksi muncul dari berbagai kalangan, mulai dari kaum buruh dan mahasiswa hingga politisi dengan dilatarbelakangi alasan yang berbeda. Salah satu alasan yang menjadi acuan penolakan kenaikan harga BBM adalah hasil perhitungan INDEF yang menyatakan bahwa dengan kenaikan BBM sebesar Rp 1.500 per liter maka pertumbuhan ekonomi diperkirakan merosot menjadi 5,8 persen. Penurunan pertumbuhan ekonomi ini antara lain disebabkan oleh investasi yang jatuh akibat kenaikan suku bunga kredit. Sementara inflasi melonjak 3-4 persen sehingga daya beli masyarakat jatuh, di mana kaum miskin daya belinya berkurang sekitar 10 -15 persen.

Selain itu, jumlah kemiskinan meningkat 1,1 – 1,3 persen atau sekitar 1,5 juta penduduk akibat penurunan daya beli, meskipun aneka skema kompensasi sudah dijalankan. Secara keseluruhan pendapatan nasional atau PDB berkurang Rp 125 triliun dibandingkan apabila BBM tidak dinaikkan sehingga pertumbuhan ekonomi 6,5 persen. Fakta di lapangan pun berbicara, bahwa rencana kenaikan BBM yang sebelumnya direncakan 1 April 2012 memberikan efek psikologis terhadap kenaikan berbagai komoditas di sektor kehidupan lain, di antaranya kenaikan bahan pokok. Belum harga BBM naik, kenaikan harga minyak goreng curah sudah mencapai Rp 329 /kg; daging sapi Rp 1.385 /kg; gula pasir Rp 502/kg; cabe merah keriting Rp 2.309/kg; cabe merah biasa Rp 3.200/kg (per tanggal 30 Maret 2012). Keadaan ini tentu saja sangat memberatkan kalangan buruh, petani dan nelayan yang merupakan komposisi terbesar masyarakat miskin di Indonesia.

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pun berupaya menjawab tekanan dari masyarakat yang semakin anarkis di seluruh wilayah Indonesia dengan menggelar rapat paripurna untuk merumuskan kebijakan yang tertuang dalam Pasal 7 ayat 6 Undang-Undang Nomor : 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012. Rapat paripurna yang digelar secara terbuka memperlihatkan bahwa adanya perbedaan sikap antar fraksi di dalam tubuh dewan yang diperlihatkan sikap 93 anggota dari fraksi Hanura dan PDIP, sedang sisanya tetap melaksanakan voting dengan hasil : 82 anggota dari fraksi Gerindra dan FPKS tetap bertahan pada opsi Pasal 7 ayat 6 Undang-Undang Nomor : 22 Tahun 2011 tanpa penambahan ayat, namun 356 anggota memilih Opsi kedua yang menerima penambahan pasal 7 ayat (6)a Undang-Undang Nomor : 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012 yang memperbolehkan pemerintah mengubah harga BBM jika harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) mengalami kenaikan atau penurunan rata-rata 15% dalam waktu 6 bulan. Dari hasil keputusan tersebut, masyarakat sedikit lega dengan pembatalan rencana kenaikan harga BBM per tanggal 1 April 2012. Namun sudah saatnya pemerintah mengambil tindakan untuk menyehatkan APBN dan menggali potensi energy dan sumberdaya mineral untuk memenuhi kebutuhan dengan cara mengembangkan sektor ekonomi kelautan.

Si Biru Mampu Menyehatkan APBN

Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia, dengan luas laut 5,8 juta km2 (75% dari total wilayah Indonesia) yang terdiri dari 0,3 juta km2 perairan laut territorial; 2,8 juta km2 perairan laut nusantara; dan 2,7 juta km2 laut ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif), Indonesia memiliki baragam potensi SDA kelautan yang besar. Sedikitnya ada 11 sektor ekonomi kelautan yang dapat dikembangkan: (1) perikanan tangkap, (2) perikanan budidaya, (3) industri pengolahan hasil perikanan, (4) industri bioteknologi kelautan, (5) pertambangan dan energi, (6) pariwisata bahari, (7) kehutanan, (8) perhubungan laut, (9) sumberdaya pulau-pulau kecil, (10) industri dan jasa maritim, dan (11) SDA non-konvensional. Menurut Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, potensi total ekonomi kesebelas sektor kelautan Indonesia diperkirakan mencapai 800 miliar dolar AS (Rp 7200 triliun) per tahun atau lebih dari tujuh kali lipat APBN 2009 dan satu setengah kali PDB saat ini. Sedangkan, kesempatan kerja yang dapat dibangkitkan mencapai 40 juta orang. Ekonomi kelautan semakin strategis bagi Indonesia, seiring dengan pergesaran pusat ekonomi dunia dari Poros Atlantik ke Asia-Pasifik.

Dari hasil studi yang pernah dilakukan oleh ahli perikanan dan kelautan IPB ini, dinyatakan bahwa Potensi produksi lestari sumberdaya ikan laut Indonesia mencapai 6,4 juta ton/tahun atau 8% dari potensi lestari ikan laut dunia. Saat ini tingkat pemanfaatannya baru mencapai 4,5 juta ton. Potensi produksi budidaya laut diperkirakan mencapai 45 juta ton/tahun, dan budidaya perairan payau (tambak) sekitar 5 juta ton/tahun. Sementara itu, total produksi budidaya laut dan tambak baru sebesar 2,5 juta ton (5% potensi produksi) pada 2007. Indonesia juga memiliki potensi industri bioteknologi kelautan sangat besar berupa industri makanan dan minuman, farmasi (seperti Omega-3, squalence, viagra, dan sun-chlorela), bioenergi, bioremediasi, genetic egnineering, dan beragam industri lainnya yang hingga kini hampir belum tersentuh pembangunan.

Penimbunan Energi dan Mineral oleh Si Biru

Richardson, (2008) menyatakan bahwa sekitar 70% produksi minyak dan gas bumi berasal dari kawasan pesisir dan lautan. Dari 60 cekungan yang potensial mengandung migas, 40 cekungan terdapat di lepas pantai, 14 di pesisir, dan hanya 6 yang di daratan. Dari seluruh cekungan tersebut diperkirakan potensinya sebesar 11,3 miliar barel minyak bumi. Cadangan gas bumi diperkirakan sebesar 101,7 triliun kaki kubik. Kawasan ini juga kaya akan berbagai jenis bahan tambang dan mineral, seperti emas, perak, timah, bijih besi, dan mineral berat. Di dalam lautan juga terdapat sekitar 10 triliun ton deuterium, sejenis isotop hidrogen yang mudah dipisahkan dari air laut dan merupakan bahan bakar utama bagi reaktor pembangkit energi sistem nuklir fusion, yang lebih aman ketimbang sistem nuklir fision. Dengan teknologi nuklir yang relatif aman ini, lautan sesungguhnya dapat mencukupi kebutuhan energi bagi umat manusia sejagat raya secara berkelanjutan. Belum lama ini ditemukan jenis energi baru pengganti BBM berupa gas hidrat dan gas biogenik di lepas pantai Barat Sumatera dan Selatan Jawa Barat serta bagian utara Selat Makassar dengan potensi yang sangat besar, melebihi seluruh potensi minyak dan gas bumi.

Dengan optimalisasi kekayaan laut Indonesia, sudah barang tentu kebutuhan BBM dalam negeri dapat terpenuhi sehingga Indonesia mampu menetapkan harga jual BBM dan gas bumi dalam negerinya sendiri tanpa harus harus harus diserahkan pada persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan, seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 36 Tahun 2004. Pasal 72 ayat (1). Beberapa negara-negara telah mampu menjual bensinnya dengan harga yang ditetapkannya sendiri, Venezuela menjual bensin di dalam negeri dengan harga Rp. 585/liter; Turkmenistan : Rp. 936/liter; Nigeria : Rp. 1.170/liter; Iran : Rp. 1.287/liter; Arab Saudi : Rp. 1.404/liter; Lybia : Rp. 1.636/liter; Kuwait : Rp. 2.457/liter; Quatar : Rp. 2.575/liter; Bahrain : Rp. 3.159/liter; Uni Emirat Arab : Rp. 4.300/liter.

Betapa hebat Indonesia jika mampu mengoptimalisasikan potensi laut sebagai keunggulan kompetitif, tidakkah sang pemimpin memahami potensi negeri yang dipimpin? Sudah saatnya kita menjadi negara besar dengan “Berkah ekonomi kelautan” yang telah Tuhan YME anugerahkan, berakhirnya periode pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid II di tahun 2014 adalah titik tolak perubahan bangsa, mau dibawa kemana arah pembangunan bangsa Indonesia? Hanya pemimpin yang memahami dan mampu mengoptimalisasikan potensi sumberdaya alam untuk kemajuan bangsalah yang layak untuk memimpin. Agar tidak ada lagi kepala keluarga yang menangis melihat buah hatinya busung lapar, agar tidak ada lagi siswa terluka saat belajar akibat gedung sekolah yang roboh.

Perihal irids-indonesia
institute for regional and development studies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: