Sudahkah Perusahaan Anda Berzakat ..???

Oleh Ahmad Kamaluddin Afif *)
 (Tulisan telah diterbitkan oleh koran Harian Pelita, Halaman 5, pada 21 Maret 2014) *

 

Salah satu objek zakat yang dikenal di dunia Islam dan tercantum di dalam Undang-Undang Pengelolaan Zakat (UU No 23 Tahun 2011) adalah zakat atas badan usaha yang populer sebagai zakat perusahaan. Hukum  positif tentang zakat di Indonesia mengakomodir perkembangan fiqih zakat kontemporer yang memandang perusahaan merupakan objek zakat. Sesuai keputusan Muktamar Internasional tentang zakat di Kuwait tahun 1984 dan di Bahrain tahun 2010 bahwa perusahaan dikategorikan sebagai syakhsan i’tibaran (badan hukum yang dianggap orang) atau syakhsiyyah hukmiyyah karenanya perusahaan termasuk muzakki atau subyek zakat.

Gambar
Perusahaan wajib mengeluarkan zakat karena keberadaan perusahaan sebagai badan hukum (recht person). Proses bisnis yang timbul dalam transaksi meminjam, menjual, berhubungan dengan pihak luar, dan juga menjalin kerjasamadapat menghasilkan keuntungan yang melampaui nishab zakat.  Sejalan dengan asas keadilan Islam, seorang petani yang bekerja di bawah terik matahari dengan hasil terbatas harus mengeluarkan zakat saat panen jika mencapai nishab, maka keuntungan yang dihasilkan perusahaan sewajarnya juga terkena kewajiban zakat.

Kendati ada pendapat ulama yang tidak menyepakati zakat perusahaan, tetapi penetapan dasar hukum zakat perusahaan dapat dilakukan berdasarkan kaidah hukum yang berbunyi hukmul hakim yarfa’ul khilaf  yang artinya “ketentuan penguasa/pemerintah mengatasi perbedaan pendapat.”. Setelah UU No 23 Tahun 2011 ditetapkan sebagai landasan hukum positif perzakatan, dimana zakat perusahaan menjadi salah satu objek zakat, tidak ada alasan lain untuk tidak taat pada aturan sebagaimana taat membayar pajak.

Dari sudut hikmahnya, zakat yang secara etimologis memiliki arti al-barakatu (keberkahan), an-namaa (pertumbuhan dan perkembangan), ath-thuhru (kesucian), as-shalahu (keberesan) akan mendatangkan keberkahan, pertumbuhan, kesucian serta keberesan perilaku bagi orang atau perusahaan yang selalu berzakat (Fiqh Zakat Indonesia 2013). Perusahaan yang taat menjalankan zakat akan benar-benar menjaga kebersihan sumber dan penggunaan harta serta kinerja perusahaan. Maka, tidak sedikit kita jumpai perusahaan yang taat menunaikan zakat dengan benar, memiliki prestasi dan laba yang terus meningkat. Hal ini sesuai janji Allah di dalam Al Qur’an “..dan orang-orang yang mengeluarkan zakat karena mengharap ridha Allah, itulah orang-orang yang dilipatgandakan rezekinya.” QS Ar-Rum: 39). Sebaliknya, orang yang menolak mengeluarkan zakat yang merupakan hak orang lain, Allah akan memaksa mengambilnya dengan cara-cara yang Allah kehendaki, apakah melalui kesulitan, musibah/bencana, penyakit atau cara lain di luar prediksi manusia.

Gambar
Sampai sekarang harus diakui pengumpulan zakat perusahaan belum maksimal di negara kita. Potensi zakat yang menurut penelitian IPB dan BAZNAS mencapai Rp 217 Triliun (Indonesia Zakat dan Development Report 2012’, (IMZ 2013), untuk zakat perusahaan memiliki porsi paling besar, yaitu Rp 114,89 triliun atau lebih dari 52 persen. Sedangkan yang terhimpun sampai saat ini baru sekitar Rp 2,1 Triliun atau 1% dari potensi yang ada. Namun kita bersyukur hingga saat ini dana zakat yang terhimpun telah mampu membantu lebih dari 2,8 juta mustahik atau lebih dari 9 % orang miskin di Indonesia. Maka bisa dibayangkan seandainya zakat yang terhimpun sampai 10,  30, atau 50 persen, niscaya akan menjadi kekuatan yang signifikan untuk mengatasi masalah kemiskinan di tanah air.

Gambar
Pengaturan kewajiban zakat perusahaan di Indonesia bukan satu-satunya di dunia, tetapi negara lain seperti Malaysia telah mewajibkan setiap perusahaan mengeluarkan zakat, bahkan harus dikelola melalui amil zakat resmi yang dibentuk oleh pemerintah. Demikian pula negara lain seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar.

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, selayaknya tidak ragu menggerakkan pengumpulan zakat perusahaan. Dalam sebuah diskusi dengan salah seorang direktur utama perusahaan nasional, yang juga sebagai juri dalam Investor Syariah Award, ia menyampaikan bahwa salah satu kriteria perusahaan syariah mendapat penghargaan ini adalah adanya ketaatan menunaikan zakat perusahaan. Adalah tidak etis dan tidak sempurna sebuah perusahaan mengaku “perusahaan syariah”, namun tidak taat dalam mengeluarkan zakat sesuai ketentuan syariah. Tentu saja ketaatan berzakat, tidak perlu menantiadanya penghargaan tertentu. Perusahaan tidak akan merugi, tapi justru akan tumbuh dan berkembang dengan taat menunaikan zakat perusahaan.

Secara teknis pola perhitungan zakat perusahaan, didasarkan pada laporan keuangan (neraca) dengan mengurangkan kewajiban atas aktiva lancar, atau seluruh harta (di luar sarana dan prasarana) ditambah keuntungan, dikurangi pembayaran utang dan kewajiban lainnya, dan kemudia  dikeluarkan 2,5 persen zakatnya dengan masa haul (batas waktu) perhitungan satu tahun. Saat ini sudah banyak perusahaan yang menunaikan zakatnya, mulai dari sektor perbankan, asuransi, jasa, keuangan, komoditas perdagangan, sampai pertambangan.  Namun masih banyak yang belum menunaikan kewajiban agama yang amat penting ini. Sebagianmungkin ada di sekitar kita atau kita sendiri. Satu pertanyaan yang layak diajukan, Sudahkah Perusahaan Anda Berzakat? Saya, anda dan kita semua berhak mengingatkan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menunjukkan menuntun pada kebaikan, baginya pahala kebaikan tersebut” (HR.Abu Dawud)

 

 

 

*) Penulis adalah Sekretaris Ekesekutif Institute for Regional Investment and Development Studies (IRIDS) , dan Relationship Officer Badan Amil Zakat Nasional

 

 

Referensi Pustaka:

Badan Amil Zakat Nasional, Fiqh Zakat Indonesia. BAZNAS, Jakarta 2013.

IMZ, Indonesia Zakat & Development Report 2012, Membangun Peradaban Zakat Indonesia: Soal Kebijakan dan Hal Lain yang Belum Paripurna. Jakarta, 2013.

*Gambar

Perihal irids-indonesia
institute for regional and development studies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: